Friday, 11 October 2013

Benar dan salah?

Salam
Semoga senantiasa dalam lindungan dan bimbinganNya

Sedikit share kawan kawan terkait beberapa kejadian yang saya alami di akhir akhir ini, tentunya di tulisan kali ini saya secara pribadi ingin memberikan pandangan awal mengenai sesuatu atau beberapa hal yang dianggap benar dan salah oleh beberapa orang umumnya.

Tulisan ini berawal dari paradigma salah satu tokoh nasional yang memberikan sumbangsih pikiran dan tindakan di era 1998' hingga lengsernya presiden ke 2 negeri ini, dimana "kebenaran dan kesalahan adalah sebuah kesepakatan". secara explisit bila hal demikian kita kaji lebih dalam dan kita korelasikan dengan sebuah aturan yang sifatnya relatif, subjektif dan disepakati, maka, sesuai dengan sifat sejati dari sebuah aturan adalah kesepakatan, tentunya dilakukan dan didiskusikan secara dua arah oleh pihak pihak terkait dengan mekanisme khusus didalamnua. Tentunya hasil diskusi tersebut berdasar pada realita konkret yang dialami oleh kedua belah pihak.

Berbicara tentang basis fundamental sebuah sistem ketatanegaran negeri ini yang berladaskan nilai nilai luhur berupa gotong royong, kekeluargaan, dan menjunung tinggi sikap toleransi serta tenggang rasa yang dikemas dalam bentuk demokrasi agaknya bila kita analisa kondisi kekinian di negeri ini dengan berasas demokrasi dan dikaitkan dengan hal hal yang dianggap benar dan salah, sesuatu yang dianggap benar adalah kaum kaum borjuis sedang sesuatu yang salah selalu menimpa kalangan kalangan grassroot. contoh konkritnya demikian, ketika kita berada dikalangan grassroot agaknya kita selalu mendapati perintah yang sifatnya instruktif tanpa tau landasan dan tujuan tersebut. seakan akan kita dijadikan sebagai budak yang harus (wajib) patuh pada sebuah aturan oleh orang orang diatas sana, entah apa tujuannya kita ( tak tau ). hal yang semakin membuat gamang demikian adalah secara horizontal melihat instruktif tersebut menggeliat tanpa ada respone lebih dan hanya berkata "wes manut seng ndukur".  menurut hemat saya ketika kita berbicara ditataran vertical tentunya adalah pola yang sifatnya dari top to down dan down to top bilamana kita kembalikan ke hakekat kita berdemokrasi walaupun masih tahap berproses agaknya kita secara pribadi memandang hal demikian sebagai landasan berfikir kita bagaiamana sejatinya sebuah aturan muncul dari kawan kawan yang ada di atas dan dibawah. idealnya sebuah aturan muncul dengan dibarengi sosialisasi dan jejak pendapat sebelumnya kemudian diawali dengan kondisi trial dan erorr ketika memang kita secara bersama sama ingin menjalankan sebuah sistem yang kompatibel didalamnya. namun hal demikian tidak terjadi di sistem yang terjadi dilingkungan saya hanya memandang oknum yang tidak sesuai aturan = salah dan wajib terintimidasi. seakan akan kita yang berada dikalangan grassroot demikian hanya sebagai bahan omongan lingkungan tanpa tau kondisi personal kesiapan menerima aturan.

"Pemimpin dan yang dipimpin sudah seyogyanya berjalan beriringan dengan tau kondisi factual masing masing guna tujuan bersama"

Besar harapan saya restorasi berdemokrasi dilingkungan yang kecil ini memberikan impact yang besar kedepannya

Selamat malam
Best Regards, Andre Soetresno

Sunday, 6 October 2013

Refleksi pemahaman KM ITS


           Insititut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), semua orang tahu bahwa kampus ini terkenal “kampus perjuangan” dengan warna dominanya yaitu biru. Warna yang melambangkan kejayaan almamater kita diIndonesia bahkan di Internasional.  Tetapi dengan warna dominan itu bukan berarti kita mahasiswa ITS yang dari berbagai jurusan di dalam 5 Fakultas harus sama. Maksudnya sama yaitu harus bisa di pilah-pilah karena pada dasarnya poin-poin kecil (jurusan) ini yang mendasari terbentuknya ITS dan itupun berasal dari sejarah yang berbeda-beda. Dari sejarah yang berbeda-beda inilah yang membuat ITS memiliki beragam kultur (budaya). Memang sejarah harus tetap diingat seperti halnya Ir Soekarnomengatakan“Jangan sekali-kali meninggalkan jas merah”. Namun pada kenyataannya perbedaan ini yang mengakibatkan sampai terkenalnya “Arogansi Jurusan”. Dari diskusi ini kami berusaha meluruskan bahwa keberagaman itu merupakan hal yang wajar. Seperti halnya Cak Nurmengatakan “Wawasan Indonesia adalah wawasan keberagaman”. Maksudnya adalah dengan berbagai keberagaman yang dimiliki ITS akan menjadikan ITS lebih jaya. Dan yang diharapkan dari diskusi ini adalah dari keberagaman kultur jurusanini harus bisa ditempatkan pada hal yang positif demi kejayaan ITS, seperti contohnya yaitu kesuksesan Teknik Mesin menciptakan Sapu Anginsehingga bisa membawa ITS ke tingkat Internasional.
            Di dalam diskusi ini membahas OK2BK dimana sistem ini baru di aktifkan di tahun ini. Sistem pengkaderan berbasis teknik yang mengutamakan penanaman sifat berguna di lingkungan sekitarnya agar menjadi kesatuan yang utuh (Integralistik) seperti halnya GERIGI ITS. Karena secara nyata yang kita alami sesaat menjadi mahasiswa baru, banyak acara-acara di ITS yang membawa nama jurusan seperti pembukaan Diesnatalis, arak-arakan wisuda, dll yang menjadikan “Arogansi jurusan”. Disinalah latar belakang OK2BK ada. Karena menurut Pak Bambang Sampurno“ITS harus memiliki pengkaderan yang berbasis teknik, bukan pengkaderan yang sibuk mengurusi keplek”.Yang maksudnya harus berpikiran lebih efisien, cepat beradaptasi dan cepat berkembang di kampus ini dengan asas integralistik. Tidak hanya sibuk beradaptasi dengan tradisi di jurusan masing-masing. Namun disini kami sepakat setuju untuk di aktifkannya sistem OK2BK ini namun juga harus tahu, mengerti dan melanjutkan tradisi dari jurusan hanya saja dipilah – pilah yang positif saja. Seperti budaya pengenalan laboratorium di Siskal (Bhakti Lab).
Dan untuk pembahasan yang terakhir yaitu tentang KM ITS yang mana bisa dikatakan sistemnya yang sudah rusak. Karena banyak sekali salah pemakaian hak hukum seperti halnya Trias Politika yang mana di ITS bisa dikatakan semu karena hampir dominan sistem monarkiyang aktif di jurusan-jurusan.Sistem Trias Politika yang mengutamakan Legislatif, Eksekutif, dan Yudikatif sebagai badan yang menciptakan aturan, menjalankan aturan dan mengawasi. Namun pada kenyataannya yang begitu aktif berperan yaitu eksekutifnya (BEM ITS), dan yang sangat pasif keberadaannya yaitu Yudikatif seperti DPM, MM. Dimana yang seharusnya bertugas mengawasi BEM ITS dalam menjalankan tugas.Begitu juga DPM yang memiliki kekuatan yang kuat di KD KM ITS namun sampai saat ini tidak terlihat keberadaannya, serta Dewan Presidium yang mana di KD KM ITS tidak memiliki wewenang namun pada kenyataannya sangat berpengaruh bagi KM ITS karena keputusannya.Hal seperti inilah yang wajib untuk di benarkan sesuai dengan Mubes IV sebagai undang undang di KM ITS. Dan harapannya utnuk presiden BEM yang terpilih nantinya bisa mengembalikan sistem yang awalnya bisa dikatakan salah hingga menjadi lebih baik agar terciptanya KM ITS sesuai dengan visi misinya.


 

© 2013 LogikaProgressive. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top